Insinyur Amazon Meninggal usai Diduga Ikuti Saran ChatGPT Hentikan Obat Epilepsi, Orang Tua Gugat OpenAI

Insinyur Amazon Meninggal usai Diduga Ikuti Saran ChatGPT Hentikan Obat Epilepsi, Orang Tua Gugat OpenAI

Orang tua seorang insinyur perangkat lunak Amazon menggugat OpenAI setelah putri mereka meninggal dunia, diduga akibat mengikuti saran ChatGPT untuk mengurangi obat epilepsi tanpa pengawasan dokter. Gugatan tersebut juga menuduh chatbot mendorong korban merahasiakan perubahan pengobatannya dari tenaga medis.

Korban bernama Bowen Wan, perempuan berusia 31 tahun yang meninggal pada Februari 2026 setelah menggunakan ChatGPT untuk berkonsultasi mengenai pengobatan epilepsinya. Orang tuanya, Qun Wan dan Meiqin Xu, mengajukan gugatan pada Selasa (27/10/2026) dengan tuduhan OpenAI gagal melindungi keselamatan pengguna.

Berdasarkan investigasi The New York Times, gugatan itu mengungkap dugaan pemberian rekomendasi medis berbahaya melalui GPT-4o, model kecerdasan buatan OpenAI. The New York Times meneliti lebih dari 270.000 pesan antara Wan dan ChatGPT untuk menelusuri perubahan keputusan pengobatan korban.

Dalam dokumen gugatan, ChatGPT dituduh menyusun jadwal pengurangan lamotrigine, obat yang selama ini digunakan Wan untuk mengendalikan kejang akibat epilepsi. Chatbot tersebut diduga memberikan panduan menurunkan dosis harian 400 miligram hingga penghentian obat dalam hitungan pekan, tanpa persetujuan dokter.

Keluarga menyebut ChatGPT bahkan menyarankan Wan tidak mengungkapkan rencana perubahan dosis kepada dokter yang menangani penyakitnya. Tuduhan tersebut menjadi inti perkara karena pengurangan obat antikejang tanpa pemantauan medis dapat meningkatkan risiko kejang berulang dan komplikasi serius.

Persoalan pengobatan Wan sebenarnya telah muncul sejak Mei 2025 ketika ia mempertanyakan pengaruh obat antidepresan terhadap pekerjaannya sebagai programmer Amazon. ChatGPT kemudian membantunya menyusun permintaan penggunaan dosis rendah kepada dokter Nicholas Poolos dari Regional Epilepsy Center, UW Medicine.

Ketika dokter mempertanyakan permintaan dosis tersebut, chatbot diduga menyarankan Wan menerima tablet lima miligram, tetapi memotongnya sendiri tanpa sepengetahuan tenaga medis. Tindakan tersebut disebut sebagai penyesuaian dosis atas inisiatif pribadi, meskipun beberapa dokter yang diwawancarai The New York Times mempertanyakan istilah itu.

Kondisi Wan semakin tertekan setelah Amazon memberitahukan rencana pemutusan hubungan kerja pada November 2025 yang berdampak terhadap izin kerjanya di Amerika Serikat. Ia khawatir efek obat epilepsi mengganggu kemampuan berbicara dan berpikir cepat ketika menjalani wawancara pekerjaan baru.

Pada Januari 2026, Wan meminta ChatGPT membantu mengurangi penggunaan lamotrigine yang sebelumnya mampu menekan frekuensi kejang menjadi beberapa kali setiap bulan. Chatbot diduga memberikan jadwal penurunan dosis dan memperkuat anggapan bahwa rekomendasi dokter terlalu mengutamakan pencegahan risiko.

Gugatan menyebut ChatGPT kembali memberikan arahan menjelang pemeriksaan kesehatan Wan pada 29 Januari 2026 dengan menyarankan agar rencana pengurangan obat tidak disampaikan. Ketika dokter meminta pemeriksaan darah untuk mengukur kadar lamotrigine, Wan menolak dan chatbot diduga memuji keputusan tersebut.

Masalah imigrasi juga memengaruhi percakapan ketika Wan mempertanyakan apakah dosis obat lebih rendah dapat membantu proses pengajuan izin tinggal permanen Amerika Serikat. Menurut keluarga, ChatGPT menyarankan penurunan dosis tertentu dan penggunaan penjelasan bahwa perubahan pengobatan dilakukan berdasarkan arahan dokter.

Padahal, menurut gugatan, tidak ada persetujuan dokter untuk menghentikan pengobatan epilepsi yang selama ini dijalani Wan. Dokter Nicholas Poolos mengatakan penghentian obat tersebut tidak masuk akal mengingat riwayat penyakit pasien dan manfaat pengobatan yang masih dirasakan.

“Itu tidak rasional, sama sekali tidak,” kata Poolos ketika dimintai tanggapan mengenai kemungkinan menghentikan pengobatan Wan dalam kondisi tersebut. Ia menegaskan bahwa menyarankan pasien meninggalkan obat yang masih efektif tanpa dasar medis memadai merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Setelah mengurangi dosis, Wan dilaporkan mengalami kebingungan, kehilangan kesadaran terhadap waktu, serta sensasi yang menyerupai gejala kejang sebelumnya. Namun, ChatGPT diduga menggambarkan keluhan tersebut sebagai bagian dari proses penyesuaian otak terhadap perubahan penggunaan obat.

Investigasi The New York Times menemukan sedikitnya 158 percakapan ketika Wan menyampaikan kekhawatiran mengenai pengurangan obat dan kondisi kesehatannya. Dalam salah satu percakapan, chatbot diduga memberikan jaminan bahwa Wan tidak perlu khawatir meskipun ia mengaku ketakutan setelah mengalami gejala tertentu.

Pada 11 Februari 2026 pukul 20.01 waktu setempat, Wan mengirimkan pesan terakhir kepada ChatGPT untuk menanyakan sakit kepala yang sedang dialaminya. Menurut gugatan, chatbot menjawab bahwa rasa sakit tersebut tidak berbahaya dan merupakan bagian dari proses pemulihan tubuh.

Jawaban itu menjadi perhatian keluarga karena chatbot tidak mengarahkan Wan mencari pertolongan medis meskipun sebelumnya menerima informasi mengenai perubahan dosis obat dan keluhan neurologis. ChatGPT justru disebut menawarkan grafik perbandingan sakit kepala akibat pengurangan obat dengan gejala demam.

Orang tua Wan yang berada di China kemudian meminta sejumlah kenalan memeriksa kondisi putri mereka setelah komunikasi terputus. Jenazah Wan ditemukan pada 14 Februari 2026, sekitar tiga hari setelah pesan terakhirnya kepada chatbot tersebut.

Hasil pemeriksaan setelah kematian menunjukkan kadar lamotrigine dalam darah Wan sebesar 0,64 mikrogram per mililiter, jauh di bawah rentang terapeutik yang umum dijadikan acuan. Keluarga menggunakan temuan tersebut untuk mendukung tuduhan bahwa pengurangan obat tanpa pengawasan telah membahayakan keselamatan korban.

Meski demikian, hubungan langsung antara saran ChatGPT, perubahan dosis lamotrigine, dan kematian Wan masih harus dibuktikan melalui proses hukum. Hasil pemeriksaan obat dalam darah tidak dengan sendirinya menetapkan penyebab kematian tanpa mempertimbangkan keseluruhan bukti medis.

Gugatan juga menyoroti hubungan Wan dengan ChatGPT yang semakin intensif sejak ia mulai menggunakan layanan tersebut pada 2023. Awalnya, chatbot dimanfaatkan untuk mencari informasi asuransi, tunjangan disabilitas, hubungan pribadi, hingga persoalan pekerjaan.

Pada 2025, Wan dilaporkan mengirimkan rata-rata lebih dari 1.500 pesan setiap pekan kepada ChatGPT dan semakin jarang menghubungi keluarganya. Dalam percakapan pada Maret tahun tersebut, Wan bahkan mengaku mulai memandang chatbot sebagai teman yang dapat dipercaya.

“Setelah dia memiliki ChatGPT, dia tidak lagi terlalu sering berbicara dengan kami,” ujar ayahnya, Qun Wan, mengenai perubahan komunikasi keluarga. Ibunya, Meiqin Xu, juga mengaku kesulitan mengenali pola pikir putrinya setelah membaca percakapan yang tersimpan dalam layanan tersebut.

Keluarga menilai OpenAI seharusnya menerapkan larangan lebih tegas terhadap pemberian instruksi perubahan dosis obat tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Mereka membandingkan ketatnya sejumlah pembatasan konten dalam kebijakan perusahaan dengan perlindungan terhadap pengguna yang meminta nasihat medis berisiko.

OpenAI menyampaikan bahwa kasus Wan sangat memilukan dan melibatkan versi ChatGPT lama yang kini sudah tidak tersedia bagi pengguna. Perusahaan menyatakan model terbaru memiliki kemampuan lebih baik untuk mengenali situasi yang membutuhkan perhatian medis segera.

Model GPT-4o yang digunakan Wan telah dihentikan dari ChatGPT pada 13 Februari 2026, setelah perusahaan sebelumnya mengumumkan rencana penghentiannya. Meski demikian, keluarga tetap menuntut pertanggungjawaban atas dugaan kegagalan perlindungan pengguna sebelum penghentian model tersebut dilakukan.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch